Info Sehat

WHO Beri Peringatan Terbaru Soal Rokok Elektrik, Apa Isinya?

July 29, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Sejak rokok elektronik memasuki pasar pada awal 2000-an, popularitas dan penggunaannya melonjak, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda.

Setelah sempat dianggap sebagai cara merokok yang ‘lebih aman’, vaping dengan rokok elektrik sekarang diberi peringatan berbahaya dan harus diperketat oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Baca juga: Bukan hanya Menyerang Paru-Paru, Ini 5 Penyakit Lain akibat Merokok

Sekilas tentang rokok elektrik

Rokok elektrik adalah perangkat yang dioperasikan dengan baterai yang digunakan untuk merokok. Mereka menghasilkan kabut yang dihirup jauh ke dalam paru-paru, meniru sensasi merokok pada umumnya.

Seperti rokok tradisional, kebanyakan rokok elektrik mengandung nikotin. Jumlah pastinya bervariasi tergantung merek. Beberapa memiliki kandungan yang sama atau bahkan lebih dari rokok kertas.

Ini mungkin juga memiliki tambahan rasa dan mengandung berbagai bahan kimia lainnya.

Apa bahaya rokok elektrik bagi kesehatan?

Secara umum, berikut adalah beberapa risiko penggunaan rokok elektrik bagi kesehatan:

1. Kecanduan nikotin

Nikotin sangat adiktif, dan sebagian besar rokok elektrik memasukkannya sebagai bahan utama.

Beberapa label rokok elektrik mengklaim bahwa produk mereka tidak mengandung nikotin, padahal sebenarnya itu tetap terkandung di dalam uapnya.

2. Penyakit paru-paru

Rokok elektrik mengandung rasa tambahan yang umum disukai anak muda. Beberapa bahan tambahan tersebut memiliki risiko kesehatan, seperti diacetyl yang memiliki rasa mentega.

Diacetyl telah ditemukan menyebabkan penyakit paru-paru parah yang mirip dengan bronkiolitis. Cinnemaldehyde, yang rasanya seperti kayu manis, juga adalah rasa vaping populer lainnya yang berpotensi berbahaya bagi jaringan paru-paru.

3. Meningkatkan risiko kanker

Rokok elektrik mengandung banyak bahan kimia penyebab kanker yang sama dengan rokok biasa.

Dilansir Healthline, penelitian tahun 2017 menemukan bahwa suhu tinggi yang diperlukan untuk membentuk kabut vaping terdiri dari lusinan bahan kimia beracun, seperti formaldehida, yang disebut dapat menyebabkan kanker.

Peringatan terbaru soal rokok elektrik oleh WHO

Dilansir CNBC Indonesia, WHO memberikan peringatan terbaru soal rokok elektrik dan perangkat sejenisnya berbahaya bagi kesehatan. Dikatakan bahwa peredaran rokok elektrik masih harus diperketat.

Director-General dari WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebutkan bahwa rokok elektrik merupakan taktik industri tembakau untuk membuat kaum muda kecanduan nikotin.

“Nikotin sangat adiktif. Sistem pengiriman nikotin elektronik (ENDS) berbahaya dan harus diatur dengan lebih baik,” kata pria asal Ethiopia itu sebagaimana diwartakan AFP.

Ia menambahkan bahwa ENDS harus diatur secara ketat untuk perlindungan kesehatan masyarakat yang maksimal. Pasalnya pelonggaran ini membuat penggunaan rokok elektrik kalangan remaja meningkat.

WHO menguatkan bahwa rokok saat ini telah menjadi penyebab kematian yang cukup signifikan di dunia. Tak hanya bagi kalangan perokok aktif, namun juga perokok pasif.

Bagaimana cara berhenti dari kebiasaan merokok elektrik?

Terlepas dari apapun alasannya, berikut adalah beberapa tips agar kamu berhasil meninggalkan rokok elektrik:

1. Cari tahu mengapa kamu ingin berhenti

Luangkan waktu untuk memikirkan motivasimu untuk berhenti. Ini adalah langkah pertama yang penting karena meningkatkan peluang untuk sukses berhenti merokok elektrik.

2. Tentukan batas waktunya

Setelah memiliki gagasan yang jelas tentang mengapa kamu ingin berhenti. Lanjutkan langkah berikutnya yakni memilih tanggal untuk memulai.

Hal ini tentu tidak mudah, jadi pertimbangkan untuk memilih waktu ketika kamu tidak berada di bawah banyak tekanan tambahan. Ingatlah bahwa kamu mungkin memerlukan sedikit dukungan ekstra selama periode ini.

3. Miliki strategi untuk mengatasi ‘ngidam

Di awal periode kamu berhenti vaping, kamu mungkin mengalami kombinasi dari beberapa kondisi di bawah ini:

  1. Perubahan suasana hati, seperti peningkatan lekas marah, gugup, dan frustrasi
  2. Perasaan cemas atau depresi
  3. Kelelahan
  4. Sulit tidur
  5. Sakit kepala
  6. Kesulitan fokus
  7. Peningkatan rasa lapar

Kamu juga mungkin akan mengalami ‘mengidam’, atau dorongan kuat untuk melakukan vape kembali. Untuk mengatasinya, cobalah beberapa hal seperti berlatih pernapasan dalam, berjalan cepat, melangkah keluar untuk melihat pemandangan, atau bermain game.

Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

Healthline diakses pada 28 Juni 2021

Healthline diakses pada 28 Juni 2021

CNBC Indonesia diakses pada 28 Juni 2021

    register-docotr