Info Sehat

Empat Alasan Kenapa Kamu Harus Ganti Celana Dalam Setiap Hari!

August 14, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Sebuah riset baru-baru ini memaparkan bahwa sekitar 45 persen warga Amerika Serikat ternyata tidak mengganti celana dalamnya hingga 2 hari. Bagi sebagian orang, kebiasaan tersebut mungkin terdengar jorok. Lalu, bagaimana dengan kamu sendiri?

Seberapa penting sih mengganti celana setiap hari? Apa saja dampak yang ditimbulkan jika jarang menggantinya? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Baca juga: Apakah Ukuran Penis Kamu Normal? Yuk, Kenali Bentuk dan Teksturnya

Pentingnya mengganti celana dalam

Celana dalam memiliki peranan penting dalam menciptakan rasa nyaman saat beraktivitas. Namun, jika jarang diganti, bakteri yang berkembang bisa memberikan dampak buruk pada organ genital dan area sekitarnya, seperti:

1. Bau tak sedap

Area di sekitar alat kelamin, termasuk selangkangan, adalah tempat yang sangat lembap. Hal ini karena tidak ada celah yang memungkinkan udara masuk dari luar. Akibatnya, keringat yang dihasilkan juga lebih banyak dari bagian tubuh lainnya.

Tidak adanya sirkulasi udara juga membuat keringat mudah menumpuk. Lama-kelamaan, kondisi ini bisa memunculkan bau tak sedap. Pada wanita, keadaan ini bisa diperparah oleh aroma yang keluar dari vagina. Jadi, jangan lupa untuk selalu mengganti celana dalam, ya!

2. Kulit lecet dan iritasi

Pernahkah kamu merasakan perih di selangkangan saat sedang berjalan? Bisa jadi itu adalah efek dari jarang mengganti celana dalam. Keringat yang menumpuk sudah tentu menjadi tempat ideal bagi perkembangan bakteri.

Luka lecet kemerahan biasanya disebabkan oleh iritasi. Faktor kebersihan menjadi alasan utamanya. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas harianmu. Bakteri tidak akan pergi dari celana dalam kecuali kamu mencucinya.

Baca juga: 5 Ciri-ciri Vagina Sehat yang Wajib Kamu Ketahui, Apa Saja?

3. Infeksi jamur

Selain dua hal di atas, malas mengganti celana dalam bisa membuatmu terkena infeksi jamur. Mengapa bisa begitu? Dilansir dari Bustle, jamur sangat mudah berkembang pada lingkungan yang lembap.

Seperti yang telah dijelaskan, keringat yang menumpuk dapat memengaruhi tingkat kelembapan area genital. Ditambah lagi, bakteri yang terperangkap bisa memperparah keadaan.

Infeksi jamur ditandai dengan munculnya ruam atau plak kemerahan, yang terkadang disertai rasa gatal dan sensasi panas. Pada banyak kasus, infeksi ini bisa membuat kulit menghitam dan menebal.

Sayangnya, meski infeksi berhasil diatasi, bekasnya akan tetap menempel dan sulit dihilangkan. Tentu saja, kondisi ini dapat menurunkan rasa percaya diri di hadapan pasangan.

4. Infeksi saluran kemih

Sistem saluran kemih manusia. Sumber foto: www.lumenlearning.com

Tidak hanya jamur, jarang mengganti celana dalam ternyata dapat menyebabkan infeksi yang lebih parah, lho. Mengutip dari Mayo Clinic, infeksi ini bisa terjadi di bagian mana pun dari sistem kemih, seperti ginjal, ureter, uretra, hingga kandung kemih.

Bakteri yang ada di celana dalam dapat masuk ke organ genital, lalu berjalan menuju uretra lalu menyebabkan peradangan di saluran kemih. Saat kondisi ini terjadi, buang air kecil akan terasa menyakitkan dan disertai sensasi terbakar, sakit pinggul, hingga keluarnya darah bercampur urine.

Sebuah publikasi di Perpustakaan Kedokteran Amerika Serikat memaparkan, wanita yang mempunyai masalah kebersihan di organ genital lebih rentan terkena infeksi ini, terutama jika sedang menstruasi.

Baca juga: Rentan Terjadi pada Wanita, Kenali Tentang Infeksi Saluran Kemih

Apakah harus mengganti celana dalam setiap hari?

Tak ada aturan khusus untuk mengganti celana dalam. Menurut Philip M. Tierno, profesor klinis mikrobiologi dan patologi di New York University, mengganti celana dalam beberapa kali sehari adalah pilihan terbaik.

Namun, melakukannya sekali dalam 24 jam dirasa sudah cukup. Khusus untuk kamu yang aktif bergerak dan mudah berkeringat, sangat disarankan untuk menggantinya minimal dua kali sehari.

Semakin lama celana dalam tidak diganti, jumlah bakteri juga akan berkembang lebih banyak. Mengutip dari Healthline, ada lebih dari 10 ribu bakteri pada celana dalam bersih yang telah dicuci.

Bisa dibayangkan, berapa banyak jumlah bakteri yang ada di celana dalam saat kondisinya masih kotor.

Cara mencuci celana dalam yang benar

Berbeda dengan pakaian biasa, mencuci celana dalam memerlukan teknik dan cara khusus. Salah satunya adalah tidak mencampurnya dengan pakaian lain. Ini dilakukan agar bakteri yang terkandung di dalamnya tidak menyebar dan menempel ke baju lain.

Setelah mencucinya, keringkan celana dalam di bawah terik matahari atau udara yang panas. Jika tak ada matahari, kamu bisa langsung menyetrikanya sesaat setelah kering.

Jika kamu benar-benar ingin membersihkan semua bakteri, cobalah untuk merendam celana dalam di air panas beberapa menit. Menurut Badan Kesehatan Dunia WHO, kuman dan bakteri bisa mati saat berada di dalam air bersuhu 100° Celcius. Suhu ini merupakan titik didih optimal dari air.

Berbeda dengan virus, bakteri sangat sensitif terhadap temperatur panas, bisa mati dalam hitungan detik saat berada di suhu 100° Celcius. Namun, jangan terlalu lama merendam celana dalam agar serat kainnya tidak rusak.

Nah, itulah alasan mengapa kamu harus rutin mengganti celana dalam dan mencucinya dengan benar. Selain menyehatkan, gaya hidup bersih bisa menghindarkanmu dari berbagai penyakit. Tetap jaga kesehatan, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Bustle, diakses 12 Agustus 2020, What Happens When You Don’t Change Your Underwear.
  2. Bustle, diakses 12 Agustus 2020, 6 Gross & Dangerous Things That Happen If You Wear The Same Underwear Two Days In A Row.
  3. Today.com, diakses 12 Agustus 2020, The secret is out: Lots of people don’t change their underwear every day.
  4. Healthline, diakses 12 Agustus 2020, 8 Underwear Rules to Live by for a Healthy Vagina.
  5. Mayo Clinic, diakses 12 Agustus 2020, Urinary tract infection (UTI).
  6. World Health Organization, diakses 12 Agustus 2020, Boil Water.
  7. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 12 Agustus 2020, Impact of genital hygiene and sexual activity on urinary tract infection.

    register-docotr