Info Sehat

Alergi Sulfit dari Pengawet Makanan: Ketahui Berbagai Gejala & Cara Pencegahannya

December 16, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
no-image

Agar berumur panjang dan bisa disimpan dalam waktu yang cukup lama, banyak makanan menggunakan bahan kimia sebagai pengawet, salah satunya adalah sulfit. Sayangnya, zat tersebut bisa menimbulkan reaksi alergi pada sebagian orang.

Lalu, apa sih sebenarnya sulfit itu? Bagaimana bisa memicu reaksi alergi? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Apa itu sulfit?

Sulfit adalah bahan kimia yang digunakan sebagai pengawet makanan. Dikutip dari Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy, sulfit bekerja dengan cara melepaskan gas sulfur dioksida (SO2) untuk membantu:

  • Memperlambat pembusukan
  • Menghambat pertumbuhan bakteri
  • Mempertahankan kondisi makanan dan minuman.

Senyawa kimia tersebut banyak dipakai pada makanan olahan yang telah dimasak dan diproses. Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat, telah menginstruksikan produsen makanan untuk mencantumkan keterangan sulfit pada label jika konsentrasinya lebih dari 10 ppm (part per milion).

Sedangkan pada makanan yang memiliki sulfit di bawah 10 ppm belum terbukti bisa menimbulkan gangguan kesehatan, termasuk alergi.

Baca juga: Penggunaan Natrium Benzoat sebagai Pengawet Makanan, Berbahaya atau Tidak?

Kondisi alergi sulfit

Alergi sulfit terjadi ketika tubuh memberikan respons berlebihan terhadap bahan kimia pengawet tersebut. Mengutip Verywell Health, sulfit biasanya tidak menimbulkan gangguan kesehatan pada orang tanpa riwayat alergi atau asma, bahkan jika dikonsumsi dalam jumlah besar.

Namun, pada 3 hingga 10 persen penderita asma, sulfit diketahui dapat meningkatkan gejala seperti mengi, sesak dada, dan batuk. Begitu juga dengan orang yang mempunyai alergi tertentu pada makanan, biasanya juga berpotensi mengalami sensitivitas terhadap sulfit.

Belum jelas bagaimana sulfit dapat menyebabkan reaksi alergi. Hanya saja, respons imun dengan pembentukan antibodi tertentu diyakini menjadi salah satu pemicunya.

Gejala alergi sulfit

Gejala alergi sulfit tak ada bedanya dengan tanda-tanda dari sensitivitas makanan pada umumnya, yaitu muncul ruam di kulit. Tetapi, gejalanya mungkin bisa lebih parah pada orang-orang yang telah memiliki asma. Gas yang dihasilkan sulfit dapat memicu terjadinya kejang otot di paru-paru.

Dalam kasus yang jarang terjadi, alergi sulfit juga bisa memicu anafilaksis, yaitu syok akibat reaksi alergi berlebihan yang dapat mengancam keselamatan.

Makanan yang mengandung sulfit

Jika kamu memiliki riwayat asma dan alergi tertentu, ada baiknya menghindari seluruh makanan dan minuman yang mengandung pengawet sulfit, terutama yang konsentrasinya tinggi.

Berikut beberapa makanan dan minuman yang mempunyai kandungan sulfit:

  • Buah-buahan yang dikeringkan
  • Jus lemon dan jeruk nipis dalam botol
  • Wine
  • Molase
  • Cuka anggur
  • Kentang yang dikeringkan
  • Topping buah
  • Sirup jagung
  • Acar paprika
  • Kentang beku
  • Sirop mapel
  • Selai impor
  • Sosis dan daging impor
  • Aneka keju
  • Kerang kalengan
  • Saus alpukat
  • Minuman ringan impor
  • Sari buah dan cuka apel
  • Kentang kalengan
  • Agar-agar
  • Biskuit
  • Sirop jagung berfruktosa tinggi
  • Udang beku.

Perlu diketahu bahwa semua produk yang mengandung sulfit bukanlah makanan dan minuman yang segar atau fresh, melainkan telah dibuat melalui proses tertentu agar bisa disimpan dan dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang.

Penanganan alergi sulfit

Australasian Society of of Clinical Immunology and Allergy menyatakan, tidak ada pemeriksaan yang cukup efektif untuk mendeteksi alergi sulfit. Kebanyakan orang dengan alergi sulfit bahkan tidak memiliki hasil positif setelah melakukan tes darah.

Dokter mungkin akan memeriksa tanda-tanda alergi sulfit dari gejala yang muncul. Dalam banyak kasus, obat injeksi epinefrin sering dipakai untuk mengatasi alergi tersebut.

Epinefrin adalah obat untuk meredakan reaksi alergi berat yang biasanya mengarah pada syok anafilaksis.

Pencegahan alergi sulfit

Keterangan sulfit pada label wine. SUmber foto: Bon Appetit.

Pencegahan terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan tidak mengonsumsi makanan yang mengandung sulfit. Kamu bisa mengecek terlebih dulu pada label makanan apakah terdapat sulfit atau tidak. Pada kemasan produk, sulfit biasa ditulis menggunakan beberapa nama, seperti:

  • Natrium sulfit
  • Natrium bisulfit
  • Natrium metabisulfit
  • Kalium bisulfit
  • Kalium metabisulfit
  • Sulfur dioksida

Selain memerhatikan tulisan sulfit pada label kemasan produk makanan, menghindari makan di restoran adalah pilihan yang dapat dilakukan. Sebab, sulit untuk memastikan apakah menu yang dihidangkan bebas dari sulfit atau tidak.

Nah, itulah ulasan tentang alergi sulfit dari pengawet makanan yang perlu kamu tahu. Jika kamu punya riwayat penyakit asma dan sensitivitas tertentu, ada baiknya hindari semua makanan dan minuman yang mengandung sulfit untuk meminimalkan gejala alerginya, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. WebMD, diakses 15 Desember 2020, What Is Sulfite Sensitivity?
  2. WebMD, diakses 15 Desember 2020, Asthma and Sulfite Allergy.
  3. Verywell Health, diakses 15 Desember 2020, Sulfite Allergy Overview and Foods to Avoid.
  4. Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy, diakses 15 Desember 2020, Sulfite Sensitivity.
  5. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 15 Desember 2020, Adverse reactions to the sulphite additives.

    Berita Terkait
    register-docotr