Covid-19

Fakta di Balik Pasien COVID-19 yang Telah Sembuh Ternyata Masih Bisa Terinfeksi Lagi

July 19, 2020 | Dani Kosasih | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Baru-baru ini, para ilmuwan Inggris mengeluarkan sebuah hasil penelitian yang diterbitkan pada laman kesehatan medrxiv.org.

Penelitian ini menyebutkan bahwa kekebalan tubuh seseorang yang telah terinfeksi virus COVID-19 akan menurun terhadap serangan virus yang sama dalam beberapa bulan.

Artinya, kekebalan tubuh seseorang yang sembuh setelah terinfeksi virus COVID-19 tidak akan bertahan lama. Kemungkinan kekebalan tubuh tersebut hanya akan bertahan beberapa bulan saja dan bisa terinfeksi kembali.

Hasil riset kasus COVID-19

Studi yang dilakukan oleh ilmuwan Inggris ini melibatkan 65 pasien positif COVID-19 yang telah dipantau selama 94 hari setelah menunjukkan gejala. Selain itu, studi ini juga mengambil tes antibodi pada 31 petugas kesehatan setiap satu hingga dua minggu antara Maret dan Juni 2020.

“Studi ini menunjukkan bahwa respons peningkatan antibodi IgM dan antibodi IgA menurun setelah 20 hingga 30 hari,” tulis para peneliti dalam studi tersebut.

Padahal, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, secara umum, dibutuhkan satu hingga tiga minggu setelah terinfeksi agar tubuh mampu membentuk antibodi.

Namun, studi baru ini masih dianggap memiliki beberapa keterbatasan. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menentukan apakah hasil yang sama akan muncul pada kelompok pasien yang lebih besar dan dalam jangka waktu yang lebih panjang.

“Studi ini memiliki implikasi penting untuk mempertimbangkan perlindungan terhadap infeksi ulang SARS-CoV-2 dan daya tahan perlindungan pada vaksin,” jelas para peneliti.

Penelitian lain di Jerman

Penelitian yang baru-baru ini dilakukan di Rumah Sakit Schwabing di Munich, Jerman, menunjukkan bahwa seseorang yang telah sembuh dari infeksi COVID-19 masih bisa terinfeksi lagi.

Clemens Wendtner, seorang dokter kepala di rumah sakit tersebut, menguji kekebalan pasien COVID-19 yang pernah terinfeksi dan dirawat pada akhir Januari 2020.

Tes tersebut menunjukkan penurunan signifikan dalam jumlah antibodi. Wendtner mengatakan bahwa kemampuan antibodi untuk menghentikan serangan virus Covid-19 hanya berlaku pada empat dari sembilan pasien yang diuji, dalam dua hingga tiga bulan.

Meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan, tetapi temuan awal ini menunjukkan bahwa infeksi yang kedua kalinya pada satu pasien mungkin terjadi.

“Peristiwa ini mengubah cara para ahli dalam menangani beberapa kebijakan sosial seperti social distancing atau melakukan aktivitas dengan menjaga jarak,” ungkap Clemens.

WHO: Sembuh COVID-19 bukan berarti tak bisa terinfeksi lagi

Sejak awal pandemi menyerang, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberi peringatan kalau tidak ada bukti bahwa orang yang telah pulih dari COVID-19 dan memiliki antibodi maka mampu terlindungi dari infeksi kedua.

Menurut WHO, sebagian besar studi yang pernah dilakukan memang menunjukkan bahwa orang yang telah pulih dari infeksi memiliki antibodi terhadap virus. Namun, beberapa dari orang-orang ini memiliki tingkat antibodi penawar yang sangat rendah dalam darah mereka.

Masih belum ada penelitian besar yang mengevaluasi apakah keberadaan antibodi terhadap COVID-19 memberikan kekebalan kembali terhadap infeksi selanjutnya pada manusia.

Banyak negara sedang menguji antibodi COVID-19 pada tingkat populasi atau dalam kelompok tertentu, seperti petugas kesehatan, kontak dekat kasus yang diketahui, atau di dalam rumah tangga.

WHO sendiri mengaku mendukung penelitian ini karena sangat penting untuk memahami sejauh mana faktor risiko yang terkait dengan infeksi mampu berpengaruh.

Studi antibodi yang banyak dilakukan memang memberikan data tentang persentase orang dengan antibodi COVID-19 yang terdeteksi, tetapi sebagian besar tidak dirancang untuk menentukan apakah orang-orang itu kebal terhadap infeksi kedua.

Pertimbangan lainnya

Beberapa pasien kasus COVID-19 yang telah sembuh berasumsi bahwa mereka kebal terhadap infeksi kedua, karena mereka pernah terkonfirmasi positif COVID-19. Hal ini membuat mereka mengabaikan saran untuk menjaga kesehatan masyarakat.

Beragam penelitian dan studi kasus masih terus dilakukan. Oleh karena itu, ketika bukti baru sudah tersedia, WHO akan selalu memperbaharui informasi dan data tentang COVID-19.

Oleh karena itu, yuk tetap ikuti protokol kesehatan yang berlaku serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat, termasuk jika kamu pernah terinfeksi dengan COVID-19.

Pantau perkembangan situasi pandemi di Indonesia melalui situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

1. medrxiv.org (2020). Diakses 15 Juli 2020. https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2020.07.09.20148429v1

2. dw.com. Diakses 15 Juli 2020. https://www.dw.com/en/coronavirus-antibodies-immunity-low-after-recovery/a-54159332

3. who.int (2020). Diakses 15 Juli 2020. https://www.who.int/news-room/commentaries/detail/immunity-passports-in-the-context-of-covid-19#:~:text=There%20is%20currently%20no%20evidence,from%20a%20second%20infection.

4. medrxiv.org (2020). Diakses 15 Juli 2020. https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2020.07.09.20148429v1.full.pdf

5. cdc.gov. Diakses 15 Juli 2020. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/symptoms-testing/testing.html

6. cnn.com (2020). Diakses 15 Juli 2020. https://edition.cnn.com/2020/07/13/health/covid-immunity-antibody-response-uk-study-wellness/index.html

    register-docotr