Covid-19

COVID-19 Dapat Berpengaruh Terhadap Kualitas Sperma, Bagaimana Faktanya?

February 2, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Penambahan kasus baru COVID-19 hingga saat ini masih terus terjadi. Dampak COVID-19 terhadap tubuh pun menjadi suatu kekhawatiran terbesar. Bahkan, baru-baru ini studi menunjukkan bahwa COVID-19 dapat menyebabkan kerusakan sperma.

Berdasarkan sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal Reproduction menemukan bahwa infeksi COVID-19 yang parah dapat memengaruhi kualitas sperma pada pria. Pada gilirannya, ini juga dapat memengaruhi kesuburan.

Baca juga: Bisa Menetap, Ini Gejala Umum yang Dialami Pasien COVID-19 Setelah Sembuh

Studi mengenai COVID-19 dan kualitas sperma

Melansir dari laman CNN Health, studi tersebut melibatkan 105 pria yang tidak terinfeksi COVID-19 dan 84 pria dengan COVID-19. Studi ini menganalisis air mani dalam jarak waktu 10 hari yang dilakukan selama 60 hari.

Studi menemukan bahwa terdapat peningkatan signifikan terhadap peradangan serta stres oksidatif sel sperma pada pria yang terinfeksi COVID-19 jika dibandingkan dengan pria sehat.

Baik itu konsentrasi sperma, mobilitas, serta bentuk sperma juga dipengaruhi secara negatif oleh virus.

“Efek pada sel sperma ini dikaitkan dengan kualitas sperma yang lebih rendah dan potensi kesuburan yang berkurang” kata Behzad Hajizadeh Maleki, peneliti utama sekaligus seorang mahasiswa doktoral di Justus Liebig University Giessen, Jerman.

Lebih lanjut, ia juga mengatakan bahwa meskipun efek ini cenderung berkurang seiring dengan waktu, efek tersebut secara signifikan lebih tinggi pada pasien COVID-19, dan besarnya perubahan ini juga terkait dengan tingkat keparahan penyakit.

Pendapat para ahli

Allan Pacey, seorang profesor di University of Sheffield, Inggris melakukan peninjauan terhadap 14 studi yang diterbitkan tentang topik tersebut.

Ia mengatakan bahwa, efek virus corona yang dapat diukur terhadap kesuburan pria mungkin hanya sedikit dan bersifat sementara.

Sebagai tambahan, ia juga mengatakan bahwa terdapat faktor lain yang mungkin memengaruhi hasil penelitian, termasuk penggunaan obat untuk mengobati virus.

Di sisi lain, Channa Jayasena, PhD seorang dosen senior di Reproductive Endocrinology & Andrology, Imperial College London, Inggris seperti dilansir Medscape mengatakan bahwa reseptor angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) dapat ditemukan pada testis.

ACE2 sendiri merupakan protein yang digunakan oleh virus SARS CoV-2 untuk masuk ke dalam sel tubuh. Oleh karenanya, ini menimbulkan kekhawatiran mengenai pengaruh COVID-19 terhadap kesuburan pria.

Meskipun demikian, ia mencatat bahwa penyakit yang disebabkan oleh virus dapat menyebabkan penurunan jumlah sperma untuk sementara waktu, bahkan dapat menjadi nol selama beberapa minggu atau bulan.

Baca juga: Dapat Menyerang Sistem Pencernaan, Apakah Mencret Termasuk Gejala COVID-19?

Demam dapat berdampak pada produksi sperma

Seperti yang sudah diketahui bahwa COVID-19 memiliki gejala utama yakni demam. Prof. Allan Pacey mengatakan bahwa kumpulan data yang diperoleh dari penelitian tersebut kemungkinan merupakan perbedaan kualitas sperma antara pria yang sakit demam dengan pria yang sehat.

Perlu diketahui bahwa demam, apapun itu penyebabnya dapat berdampak pada produksi sperma. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh COVID-19 dengan kualitas sperma masih diperlukan.

Cara mencegah serta menangani jumlah sperma rendah

Kesuburan pada pria bisa ditingkatkan dengan beberapa cara, termasuk dengan mengonsumsi makanan bergizi serta menerapkan gaya hidup sehat.

Nah, berikut ini adalah beberapa cara untuk meningkatkan kualitas sperma serta kesuburan pada pria.

1. Rutin berolahraga

Olahraga tidak hanya dapat menjaga kesehatan tubuh saja, melainkan juga meningkatkan kadar testoteron serta kesuburan.

Bahkan, studi menunjukkan bahwa pria yang berolahraga secara teratur memiliki kadar testoteron yang lebih tinggi dan kualitas air mani yang lebih baik.

Meskipun demikian, olahraga tidak boleh dilakukan secara berlebihan. Sebab, terlalu banyak berolahraga justru berdampak sebaliknya.

2. Hindari stres

Stres yang berkepanjangan dapat meningkatkan kadar kortisol, yang mana memiliki efek negatif pada hormon testoteron. Ketika kadar kortisol naik, kadar tertsoteron cenderung menjadi turun.

Berjalan-jalan di alam terbuka, melakukan teknik relaksasi atau meditasi, berolahraga serta menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman dapat mengurangi tingkat stres yang tinggi.

3. Penuhi asupan zinc

Zinc merupakan mineral penting yang dapat ditemukan dalam jumlah tinggi pada sumber hewani, seperti daging, ikan, telur, serta kerang. Mencukupi asupan zinc dapat meningkatkan kesuburan pada pria.

Dilansir dari Healthline, satu studi observasi menunjukkan bahwa kekurangan zinc dikaitkan dengan kadar testoteron yang rendah, berpengaruh terhadap kualitas sperma, serta peningkatan terhadap risiko infertilitas pada pria.

Itulah informasi mengenai COVID-19 dan kaitannya terhadap kualitas sperma. Sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran COVID-19, selalu terapkan protokol kesehatan, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor! 

Reference

CNN Health. Diakses pada 01 Februari 2021. Does Covid-19 impact male fertility? Experts urge caution about new evidence 

Medscape (2021). Diakses pada 01 Februari 2021. New Study: COVID-19 Could Damage Sperm, but Experts Query Results 

Healthline (2020). Diakses pada 01 Februari 2021. 10 Ways to Boost Male Fertility and Increase Sperm Count 

Vaamonde, Diana, Marzo Edir Da Silva-Grigoletto (2012). Physically active men show better semen parameters and hormone values than sedentary men. NIH (diakses pada 01 Februari 2021)

    register-docotr