Covid-19

Benarkah COVID-19 Menyebabkan Gagap pada Pasien yang Sudah Sembuh?

January 28, 2021 | Anisya Fitrianti | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Pada awal kemunculanya, infeksi COVID-19 diketahui dapat menyebabkan demam, kelelahan, batuk dan sesak napas. Namun virus yang satu ini dengan cepat menyebar dan bisa menyebabkan serangkaian dampak lain seperti ruam pada kulit, anosmia, parosmia dan sakit mata. 

Bahkan menurut laporan terbaru, COVID-19 dapat menyebabkan kondisi gagap pada pasien yang telah sembuh. Padahal pasien sebelumnya tidak memiliki gangguan gagap saat bicara.

Di Inggris, dua orang pasien yang sudah sembuh dari COVID-19 dilaporkan mengalami gagap. Kondisi gagap ini muncul setelah keduanya memiliki hasil tes negatif atas COVID-19. 

Baca juga: 7 Hal yang Boleh dan Tidak Boleh Kamu Lakukan Setelah Vaksin COVID-19 

Laporan pasien COVID-19 yang mengalami gagap

Dilansir dari Scientificamerican, dampak ini dilaporkan oleh seorang pria berusia 40 tahun bernama Patrick Thornton. Dirinya mulai sakit pada Agustus 2020 dan memiliki gejala sedang seperti sakit tenggorokan, sakit kepala dan kesulitan bernapas.

Di akhir September, kondisi tubuhnya semakin membaik dan mulai masuk fase pemulihan. Namun suatu hari ia bangun dari tidur siang dan merasa ada yang salah dengan mulutnya. 

Berdasarkan keterangannya, Thornton mengalami kondisi gagap yang parah untuk pertama kali dalam hidupnya. Kegagapan ini membuatnya sulit menemukan kata-kata saat berbicara. 

Pada November, Thornton masih memiliki kondisi tubuh yang kurang baik. Ia merasa energinya rendah, nyeri dada, detak jantung tidak beraturan dan sakit kepala. Kondisi ini pun memperburuk kegagapannya.  

Penelitian temukan COVID-19 dapat ganggu sistem saraf

Para peneliti menemukan bukti bahwa ketika virus SARS-CoV-2 hilang dari tubuh, gejalanya bahkan masih bisa tersisa. Di antara jutaan orang yang sembuh dari komplikasi pernapasan akibat COVID-19, banyak yang masih hidup masih dengan gejala neurologis.

Gejala neurologis seperti kelelahan, kabut otak, hilangnya penciuman, diketahui tetap ada setelah virus hilang dari tubuh.

Melalui survei awal terhadap 153 pasien COVID-19 di Inggris dan studi pada pasien yang dirawat di rumah sakit Italia, diketahui bahwa sekitar sepertiga pasien memiliki gangguan neurologis yakni gangguan terkait sistem saraf. 

Thomas Pollak, seorang neuropsikiatri di King’s College London dan salah satu penulis riset mengungkap bahwa gejala neurologis akibat COVID-19 ini sangat luas spektrumnya. 

“Beberapa gejala sangat merusak, seperti stroke atau ensefalitis, dan beberapa tidak,” terangnya. Gejala neurologis yang menjadi umum pada pasien COVID-19 adalah kelelahan dan masalah ingatan. 

Kemudian gejala yang lebih jarang terjadi adalah psikosis (gangguan mental yang ditandai dengan diskoneksi dari kenyataan), mania (suasana hati yang sangat riang dan bersemangat) dan gagap. 

Baca juga:Meski Sudah Vaksin COVID-19, Masih Harus Pakai Masker Sampai 4 Tahun Lagi?

Kondisi gagap bisa semakin buruk bila disertai stres

Soo-Eun Chang, ahli saraf dari University of Michigan juga menegaskan kalau gagap dapat semakin buruk pada pasien yang sudah sembuh dari COVID-19 bila mereka mengalami stres dan kecemasan. 

Soo Eun Chang menambahkan asal mula gangguan gagap itu terletak pada sirkuit kompleks otak yang mengkoordinasikan jutaan koneksi saraf yang dibutuhkan untuk bicara manusia.

Respons dari inflamasi COVID dapat merusak efisiensi sirkuit dalam otak. “Ada 100 otot yang terlibat yang harus berkoordinasi dalam skala waktu milidetik. Dan itu tergantung pada otak yang berfungsi dengan baik, ” jelas Soo Eun Chang. 

Para peneliti dari universitas tersebut juga melaporkan melihat peningkatan kasus gagap selama pandemi. Kebanyakan pada orang yang gagapnya memburuk atau yang gagap masa kecilnya kembali lagi

Gejala yang ditinggalkan oleh virus SARS-Cov-2 pada orang yang telah sembuh memang tidak bisa dihindari. Hal ini juga sudah terbukti pada pasien dengan gejala seperti anosmia. 

Pasien yang melaporkan kasus gagap di Inggris juga masih mengalami gangguan tersebut hingga Desember 2020 tapi seiring berjalannya hari kondisinya semakin membaik. 

Dengan adanya temuan ini, para peneliti mengingatkan bahwa gejala yang tersisa akibat infeksi COVID-19 sangat mungkin mengganggu aktivitas yang pada akhirnya juga bisa berdampak pada kesehatan mental. 

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor! 

register-docotr