Covid-19

Antibodi Tak Terdeteksi meski Sudah Divaksin Dua Kali, Bagaimana Nasib Pasien Transplantasi Organ?

June 8, 2021 | Nanda Hadiyanti | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Vaksinasi dilakukan untuk memberikan perlindungan diri dari penyebaran virus SARS-CoV-2. Tetapi bagaimana jika setelah vaksin tidak ada antibodi yang terbentuk? 

Kondisi tersebut ditemukan pada penerima transplantasi organ padat (seperti jantung, paru-paru dan ginjal). Sebuah penelitian menunjukkan bahwa penerima transplantasi organ padat tidak memiliki antibodi sama sekali, walau sudah mendapatkan dua dosis vaksin COVID-19. 

Penelitian terbaru tentang antibodi pada penerima transplantasi organ

Orang yang menerima transplantasi organ padat seringkali harus minum obat penekan sistem kekebalan tubuh. Pengobatan itu ditakutkan berpengaruh pada pemberian vaksin COVID-19. 

Itu sebabnya dilakukan penelitian untuk melihat efektivitas vaksinasi COVID-19 pada orang-orang yang pernah menerima transplantasi organ.

Pada penelitian awal yang diterbitkan pada Maret 2021 lalu, diketahui bahwa hanya 17 persen dari peserta penelitian yang berhasil memiliki antibodi setelah vaksin dosis pertama. 

“Setelah suntikan kedua, yang antibodinya mencapai tingkat yang cukup tinggi guna menangkal infeksi SARS-CoV-2 masih jauh di bawah dibandingkan pada orang dengan sistem kekebalan yang sehat,” kata peneliti Brian Boyarsky, MD, seorang residen bedah di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins.

Karena itu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengevaluasi respons imun tubuh dari penerima transplantasi yang telah mendapatkan vaksin dosis kedua. 

Penelitian terbaru dari penerima transplantasi organ

Penelitian yang dipublikasikan secara umum di JAMA Network ini melibatkan 658 peserta dengan kriteria pernah melakukan transplantasi organ dan tidak pernah terkena COVID-19 sebelumnya. 

Mereka yang ikut dalam penelitian ini adalah yang sudah menerima vaksin dosis kedua dalam rentang 16 Desember 2020 hingga 13 maret 2021. 

Penelitian itu dilakukan dengan cara melihat tingkat antibodi pascavaksinasi. Hasilnya, hanya 98 dari 658 peserta yang membentuk antibodi setelah dosis pertama. Kemudian jumlah ini meningkat setelah pemberian dosis kedua. 

Sebanyak 357 dari 658 peserta mengalami peningkatan antibodi setelah 29 hari menerima vaksin dosis kedua. Tapi sebanyak 46 persen atau 301 dari 658 peserta tidak memiliki antibodi sama sekali. 

Sementara sebanyak 39 persen baru menghasilkan antibodi setelah suntikan kedua. Para peneliti juga menemukan bahwa di antara peserta, yang paling mungkin mengembangkan respons antibodi berusia lebih muda, tidak menggunakan rejimen imunosupresif termasuk obat anti-metabolit dan menerima vaksin Moderna. 

“Sangat memprihatinkan bahwa hanya sedikit dari populasi ini yang mengembangkan antibodi setelah vaksin. Padahal pada orang sehat, antibodi berkembang hampir 100 persen,” kata Boyarsky, dikutip dari WebMD

Apa yang harus dilakukan selanjutnya? 

Tentu saja penelitian itu menunjukkan hasil yang tak terduga. Karena orang yang pernah menerima transplantasi organ masih menjadi kategori yang rentang terhadap penularan COVID-19. 

Sementara itu hal yang bisa dilakukan adalah mengubah penggunaan obat penekan sistem kekebalan tubuh. Karena tidak berkembangnya antibodi mungkin terkait dengan obat penekan sistem kekebalan tubuh. 

Pengurangan obat penekan kekebalan tubuh adalah salah satu pilihan. Sementara pilihan lainnya bisa berupa penambahan suntikan booster untuk meningkatkan respons antibodi. 

Tantangan lain yang harus dihadapi

Jika pilihannya adalah mengurangi penggunaan obat penekan sistem kekebalan tubuh, maka tim medis harus berhati-hati.

“Karena obat imunosupresif jelas sangat penting bagi penerima transplantasi, demi mencegah penolakan terhadap organ yang diberikan,” kata Boyarsky. 

Sementara masih dicari cara lain, Boyarsky menggarisbawahi bahwa, yang penting adalah untuk mengingat bahwa orang yang pernah melakukan transplantasi organ tidak terlindungi meski telah menerima vaksin. 

Meski begitu, mereka tetap adalah kelompok rentan. Karenanya mereka telah perlu mendapatkan dua dosis vaksin COVID-19.

“Kami tetap merekomendasikan anggota keluarga dan lingkup sosial penerima transplantasi benar-benar divaksin, untuk membantu melindungi anggota masyarakat yang paling rentang,” tambah Boyarsky. 

Diperlukan penelitian lanjutan

Kedepannya diperlukan penelitian yang lebih mendalam lagi untuk mencari cara meningkatkan respons antibodi terhadap vaksin. Termasuk penggunaan obat imunosupresif sehingga antibodi yang memadai tercapai. 

Demikian tentang efek vaksin yang ternyata banyak tidak terbentuk pada kelompok orang yang pernah melakukan transplantasi organ. 

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

register-docotr