Covid-19

Gejala Umum Post-acute COVID-19 Syndrome dan Penanganannya

November 10, 2020 | Dewi Nurfitriyana | dr. Debby Deriyanthi
no-image

Berbagai perkembangan seputar pandemi COVID-19 terus terjadi di seluruh belahan dunia. Salah satunya terkait dengan gejala-gejala yang dirasakan para penderitanya.

Misalnya baru-baru ini, muncul data bahwa beberapa pasien terus mengalami gejala infeksi virus corona meski sebelumnya telah dinyatakan sembuh.

Fenomena yang masih belum memiliki istilah medisnya tersebut, untuk sementara waktu dinamakan post-acute COVID-19 syndrome, atau long COVID.

Tentunya informasi tentang ini sangat penting untuk diketahui, agar kamu bisa melakukan langkah pencegahan tertular corona dengan lebih baik lagi.

Baca juga: Fakta Tentang Virus Corona Bisa Menyebar Lewat Paket Kiriman Barang

Apa itu post-acute COVID-19 syndrome?

Mengingat hingga saat ini pengertian dari istilah post-acute COVID-19 syndrome belum disepakati. Maka untuk sementara waktu definisi pertama yang dapat diterima secara luas berasal dari jurnal yang diterbitkan oleh the U.S. National Institutes of Health pada Juli 2020.

Dilansir dari Academic.Oup, dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa post-acute COVID-19 syndrome dapat dikatakan terjadi apabila gejala infeksi virus corona berlangsung lebih dari tiga minggu sejak timbulnya gejala pertama.

Sementara untuk masuk dalam kategori kronis, gejala terus-menerus harus berlangsung lebih dari 12 minggu setelah gejala awal dirasakan. Studi tersebut juga memaparkan beberapa ciri umum dari kondisi ini, seperti:

  1. Terdapat gejala sisa yang menetap setelah sembuh dari infeksi akut
  2. Disfungsi organ tetap ada setelah pemulihan awal, dan
  3. Muncul gejala atau sindrom baru yang berkembang setelah infeksi ringan terjadi.

Mengapa orang bisa mengalami post-acute COVID-19 syndrome?

Dilansir dari Bmj, tidak diketahui mengapa pemulihan atas COVID-19 dapat berlangsung lebih lama pada beberapa penderitanya.

Namun beberapa faktor seperti respons antibodi yang lemah, adanya infeksi ulang, inflamasi, faktor mental seperti stres, dan reaksi imun lainnya, dianggap bisa berkontribusi menyebabkan hal ini terjadi.

Gejala yang tetap muncul pada pasien COVID-19 berat

Kelelahan adalah salah satu gejala yang paling sering dilaporkan dialami pasien setelah dinyatakan pulih dari COVID-19 akut. Data ini diperoleh dari studi yang mengevaluasi 143 pasien yang sebelumnya telah selesai dirawat di rumah sakit akibat terserang COVID-19.

Dari total keseluruhan pasien, 87 persen di antaranya disebutkan setidaknya mengalami 1 gejala tetap dalam rentang waktu rata-rata sekitar 60 hari setelah gejala pertama muncul. Adapun beberapa gejalanya adalah:

  1. 53,1 persen mengaku kelelahan
  2. 43,4 persen susah bernapas
  3. 27,3 persen mengalami nyeri sendi.

Dalam studi lainnya yang dilakukan di Prancis, gejala yang paling sering dilaporkan oleh 120 orang pasien rawat inap akibat COVID-19 di rentang waktu rata-rata 110,9 hari setelah masuk rumah sakit adalah:

  1. Kelelahan (55%),
  2. Dispnea atau sesak bernapas (42%)
  3. Kehilangan memori (34%)
  4. Masalah konsentrasi (28%), dan
  5. Gangguan tidur (30,8 %).

Gejala yang tetap muncul pada pasien COVID-19 ringan

Gejala post-acute COVID-19 syndrome nampaknya tidak hanya terjadi pada pasien yang sembuh dari infeksi corona tingkat lanjut. Sebuah laporan yang diterbitkan oleh CDC menjelaskan bahwa gejala infeksi corona yang menetap juga bisa terjadi pada pasien dengan diagnosis COVID-19 ringan.

Studi ini mencakup 274 pasien dari seluruh Amerika Serikat yang menjalani pengujian SARS-CoV-2 di Unit Gawat Darurat.

Dari total keseluruhan paisen, 270 pasien di antaranya melaporkan bahwa gejala berikut tetap terjadi dalam rentang waktu sekitar 16 hari setelah dilakukan pengetesan pertama.

  1. Batuk (43%)
  2. Kelelahan (35%), dan
  3. Sesak nafas (29%).

Baca juga: Fakta di Balik Temuan Virus COVID-19 Bertahan 28 Hari di Layar Ponsel

Cara mengatasi post-acute COVID-19 syndrome

Penderita gangguan ini harus ditangani secara praktis, menyeluruh, dan sesuai dengan gejala yang dialami sambil menghindari penyelidikan berlebihan.

Misalnya untuk menangani demam, pasien dapat diobati dengan memberikan obat-obatan parasetamol atau obat anti inflamasi nonsteroid.

Adapun untuk gejala batuk kronis yakni batuk yang bertahan lebih dari delapan minggu, paling baik ditangani dengan obat dan latihan kontrol pernapasan sederhana. Sementara untuk gejala susah napas sebaiknya dirujuk segera ke rmah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

Punya keluhan atau pertanyaan lebih lanjut seputar COVID-19? Silakan chat langsung dengan dokter kami untuk konsultasi. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Management of post-acute covid-19 in primary care, https://www.bmj.com/content/370/bmj.m3026 diakses pada 9 November 2020

Post-Acute COVID-19: An Overview and Approach to Classification https://academic.oup.com/ofid/advance-article/doi/10.1093/ofid/ofaa509/5934556 diakses pada 9 November 2020

Post-acute COVID-19 syndrome https://www.idsociety.org/covid-19-real-time-learning-network/disease-manifestations–complications/post-covid-syndrome/ diakses pada 9 November 2020

    Berita Terkait
    register-docotr