Ketahui Pola Asuh Anak yang Tepat agar Tumbuh Kembang Maksimal di Usianya

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin

Moms, mendidik anak agar berkepribadian dan memiliki karakter yang baik memang tidak mudah. Perilaku anak sangat bergantung dari pola asuh yang diberikan oleh orang tua. Lalu sebenarnya, seperti apa pola asuh yang tepat bagi anak?

Sangat penting bagi orang tua untuk memastikan gaya pengasuhan yang diterapkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak yang sehat dengan cara berinteraksi dengan mereka.

Seorang anak pertama kali belajar dari orang tua dan lingkungan terdekatnya yakni keluarga. Oleh karena itu, jangan sampai salah ya, Moms mendidik dan menerapkan pola asuh anak!

Seperti apa pola asuh yang tepat bagi anak?

Setiap orang tua memang memiliki cara masing-masing untuk mendidik anak. Yang perlu diiingat adalah sebaiknya perhatikan lah terlebih dahulu sifat dan karakter anak sebelum menerapkan suatu pola asuh tertentu.

Ada beberapa jenis pola asuh yang tepat bagi anak yang dapat diterapkan oleh orang tua. Setiap jenis pola asuh mengambil pendekatan yang berbeda untuk membesarkan anak-anak dan dapat diidentifikasi dengan sejumlah karakteristik yang berbeda.

Berikut adalah pola asuh yang tepat bagi anak yang telah dirangkum dari berbagai sumber.

Baca juga: Moms, Yuk Ketahui Apa Saja Perkembangan yang Dialami si Kecil saat Berumur 11 Bulan

1. Pola asuh otoriter

Orang tua yang otoriter biasanya memperlakukan anak-anak harus mengikuti aturan tanpa terkecuali. Mereka menggunakan gaya disiplin yang ketat dengan sedikit negosiasi. Ketika seorang anak mempertanyakan alasan di balik aturan, alasannya “karena ayah/ibu berkata begitu”.

Pola pengasuhan ini tidak mengizinkan anak-anak untuk terlibat dalam masalah. Sebaliknya, mereka membuat aturan dan menegakkan konsekuensinya dengan sedikit memperhatikan pendapat anak.

Biasanya orang tua yang menerapkan pola asuh ini menggunakan hukuman daripada kedisiplinan. Alih-alih mengajari seorang anak cara membuat pilihan yang lebih baik, mereka justru membuat anak-anak lebih merasa bersalah akan perbuatannya.

Kelebihan dari pola asuh ini adalah mengajarkan anak bahwa ada batasan dan harapan yang jelas untuk dicapai. Namun, kelemahannya adalah dapat membuat anak tertekan, kurang percaya diri, atau bahkan dapat berperilaku secara agresif.

2. Pola asuh autoritatif

Pola asuh autoritatif menerapkan aturan dan batasan yang jelas. Tidak seperti orang tua otoriter, pola asuh ini menjelaskan logika dan alasan di balik aturan. Mereka juga bersedia mendengarkan umpan balik, pertanyaan, dan keberatan anak-anak terhadap aturan tersebut.

Orang tua sering menyertakan anak-anak ketika membuat aturan, dan mencoba fokus pada penguatan pribadi anak yang positif ketika harapan terpenuhi, seperti pemberian pujian dan penghargaan.

Anak-anak yang cenderung dibesarkan dengan pola pengasuhan ini cenderung bahagia dan sukses. Mereka juga lebih pandai dalam membuat keputusan dan mengevaluasi risiko dari perbuatan yang mereka lakukan.

Pola pengasuhan ini sangat direkomendasikan karena dapat membuat anak dan orang tua memiliki rasa saling mengerti dan membuat hubungan keduanya lebih dekat.

3. Pola asuh permisif

Pola asuhan ini tidak benar-benar menerapkan aturan untuk anak mereka. Orang tua biasanya tidak memberikan batasan pada anak. Karena mereka toleran, anak-anak tidak memiliki harapan yang jelas untuk dipenuhi, dan jarang menerima konsekuensi dari perilaku buruk anak.

Orang tua yang menerapkan pola asuh ini menganggap mereka sebagai teman bagi anak-anak daripada orang tua.

Pola asuh ini menciptakan anak-anak yang sangat mandiri, tetapi kurang disiplin. Aturan dan batasan menjadi kurang berarti bagi mereka, maka dari itu anak-anak cenderung kesulitan untuk mengikuti aturan dan batasan.

4. Pola asuh tidak terlibat

Orang tua yang menerapkan pola asuh ini biasanya melepaskan anak-anak mereka dan mengharapkan mereka untuk membesarkan dirinya sendiri.

Orang tua juga tidak mencurahkan banyak waktu dan energi untuk memenuhi kebutuhan dasar anak-anak. Akibatnya, anak-anak mungkin tidak memiliki banyak bimbingan, pengasuhan, serta mendapatkan perhatian dari orang tua.

Ada beberapa alasan di balik pola asuh tidak terlibat ini, misalnya penerapan pola asuh ini merupakan hasil dari tekanan tinggi yang terjadi pada orang tua, beban keuangan, serta terlalu banyak bekerja, sehingga membuat anak-anak kurang mendapatkan perhatian dari orang tua.

Dilansir dari Motherly, para ahli yang sepakat bahwa pola asuh tidak terlibat (pola asuh lalai) dapat membahayakan anak-anak. Pola asuh ini dapat sangat merugikan anak-anak, sehingga mereka sering menunjukkan masalah perilaku serta kurang merasa bahagia.

Menerapkan pola asuh yang tepat memang sangat penting bagi orang tua untuk mendidik anaknya menjadi pribadi yang lain. Pilihlah pola asuh terbaik yang dapat memberikan kepercayaan diri pada anak serta dapat mempererat hubungan orang tua dengan anak.

Jika Moms memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai masalah ini, Moms juga dpaat berkonsultasi dengan dokter kami melalui Aplikasi Grab Health. Dokter terpercaya kami siap membantumu selama 24/7.

Bright Horizons (2020). Diakses pada 06 Juli 2020. What Is My Parenting  Style? Four Types of Parenting 

Motherly. Diakses pada 06 Juli 2020. What’s the ‘Best’ Parenting Style to Raise a Successful Child?

Very Well Health (2019). Diakses pada 06 Juli 2020. 4 Types of Parenting Style and Their Effects on Kids 

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin