Olahraga

Hobi Bersepeda di Medan Berat? Waspadai Cyclist’s Palsy!

February 18, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Bersepeda memang merupakan sebuah aktivitas yang menyehatkan, terutama untuk tulang dan otot. Namun, olahraga yang digemari oleh banyak orang tersebut juga bisa menyebabkan cedera bernama cyclist’s palsy, lho.

Apa itu sebenarnya cyclist’s palsy? Mengapa bisa terjadi? Serta, gejala apa saja yang mungkin ditimbulkan? Yuk, temukan jawabannya dengan ulasan berikut ini!

Baca juga: 6 Manfaat Bersepeda: Bisa Turunkan Berat Badan hingga Cegah Sakit Jantung

Mengenal kondisi cyclist’s palsy

Kelumpuhan saraf ulnar (kiri) dan saraf median (kanan). Sumber foto: Physiopedia.

Cyclist’s palsy adalah kelumpuhan sementara yang sangat rentan menyerang pesepeda jarak jauh. Kondisi tersebut dapat menyerang bagian tangan, terutama pergelangan dan jari. Menurut sebuah penelitian, cyclist’s palsy merupakan salah satu cedera yang paling umum menyerang pesepeda.

Cyclist’s palsy bisa terjadi karena adanya tekanan yang cukup kuat secara terus-menerus pada saraf di tangan yang memegang setang sepeda. Risiko terkena kondisi tersebut bisa meningkat saat kamu bersepeda di medan ekstrem, seperti jalan menanjak atau menuruni bukit.

Saat bersepeda, sebagian besar bobot tubuh berpindah ke tangan, mengakibatkan adanya tekanan berlebih pada area pergelangan. Semua itu dapat menyebabkan neuropraksia, yaitu gangguan pada sistem saraf tepi di mana ada penurunan fungsi motorik dan sensorik sementara.

Cyclist’s palsy dibedakan menjadi dua jenis utama berdasarkan lokasinya, yaitu:

Kelumpuhan saraf ulnar

Ulnar adalah saraf yang menghubungkan pergelangan dengan jari manis dan kelingking. Aktivitas bersepeda di medan yang berat mengharuskan lengan dan pergelangan bekerja lebih ekstra. Akibatnya, tekanan yang diberikan pada saraf di sekitarnya juga makin besar.

Tumpuan pada pinggir luar telapak tangan bisa mempercepat terjadinya cyclist’s palsy. Saraf bisa meregang dan mengakibatkan munculnya beberapa gejala seperti mati rasa, kram, nyeri, dan keterbatasan gerak. Jenis cyclist’s palsy yang satu ini paling umum terjadi ketimbang tipe lainnya.

Kelumpuhan saraf median

Saraf median adalah saraf yang menghubungkan pergelangan dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah. Kelumpuhan saraf median terjadi ketika adanya tekanan yang diberikan oleh tulang karpal di punggung pergelangan.

Area tersebut kemudian meradang dan menyempit, menekan strukturnya hingga memicu nyeri, kesemutan, serta mati rasa sementara pada tiga jari.

Faktor dan penyebab cyclist’s palsy

Ada banyak hal yang bisa meningkatkan risiko pesepeda untuk mengalami cyclist’s palsy, di antaranya adalah:

  • Tangan yang lelah karena menopang beban tubuh
  • Tidak cukup sering mengubah posisi tangan pada setang saat bersepeda
  • Mengenakan sarung tangan yang kurang pas
  • Bentuk dan ukuran setang sepeda yang tidak sesuai dengan postur tubuh
  • Sadel (tempat duduk) yang terlalu tinggi atau miring ke bawah, menyebabkan berat badan tidak tersebar dengan rata.

Ciri dan gejala cyclist’s palsy

Gejala dari cyclist’s palsy bisa berbeda-beda setiap orang, tergantung dari tingkat keparahan dan faktor pemicunya. Namun, tanda paling umum dari cyclist’s palsy adalah mati rasa atau kelumpuhan sementara dan kesemutan di area tangan yang terdampak.

Selain pergelangan, jari manis dan kelingking merupakan bagian tangan yang sering mengalami kondisi tersebut. Gejala-gejala tersebut bisa bertahan hingga satu atau dua hari setelah kemunculan pertamanya.

Bagaimana cara mengatasinya?

Belat tangan. Sumber foto: www.jmclean.com.au

Selain kelumpuhan sementara, cyclist’s palsy bisa didefinisikan sebagai cedera atau trauma yang sebaiknya tak diabaikan. Meski, pada banyak kasus, cyclist’s palsy tidak terjadi cukup parah. Sehingga, perawatan medis biasanya tidak diperlukan.

Pemeriksaan diperlukan jika ada kekhawatiran kerusakan parah pada saraf, struktur tulang, dan otot. Dokter mungkin akan menggunakan bantuan ultrasound dan CT Scan untuk melihat secara detail citra visual dari struktur pergelangan tangan dan jari.

Meski bisa sembuh dengan sendirinya, ada beberapa pilihan perawatan yang dapat dilakukan, yaitu:

  • Konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID)
  • Dalam kasus yang parah, injeksi kortikosteroid mungkin diperlukan
  • Penggunaan perban belat pada pergelangan tangan.

Langkah pencegahan

Agar terhindar dari cyclist’s palsy, pencegahan adalah hal terbaik yang bisa dilakukan, di antaranya adalah:

  • Turunkan atau geser ke belakang sadel sepeda untuk mengurangi penyebaran beban tubuh ke lengan tangan
  • Gunakan pegangan tambahan dari bahan busa pada setang untuk meminimalkan efek kejut saat ada benturan
  • Gunakan sarung tangan yang pas
  • Pastikan kamu duduk di posisi yang nyaman, badan tidak boleh condong ke depan melebihi 50 derajat
  • Usahakan bahu tetap rileks dan tidak tegang
  • Posisi siku sebaiknya membentuk sudut 90 derajat antara badan dan lengan.

Nah, itulah ulasan tentang cyclist’s palsy yang harus diwaspadai oleh setiap pesepeda. Lakukan langkah-langkah pencegahan di atas untuk meminimalkan risiko terkena kondisi tersebut, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 17 Februari 2021, Cycling injuries.
  2. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 17 Februari 2021, The effect of long-distance bicycling on ulnar and median nerves: an electrophysiologic evaluation of cyclist palsy.
  3. Research Gate, diakses 17 Februari 2021, Common injuries in cycling: Prevention, diagnosis and management.
  4. Physiopedia, diakses 17 Februari 2021, Cyclist Palsy.

    register-docotr