Info Sehat

Kerap Diabaikan, Ternyata Prediabetes Sudah Bisa Jadi Faktor Risiko Penyakit Jantung

May 22, 2022 | Dewi Nurfitriyana
feature image

ID-NOND-00077

Istilah prediabetes mungkin masih terdengar asing di telinga banyak orang. Bisa jadi inilah yang membuat kondisi medis tersebut sering dianggap sepele dan tidak berbahaya bagi kesehatan.

Padahal studi menunjukkan bahwa prediabetes merupakan kondisi kesehatan yang perlu dianggap serius. Ini karena prediabetes tidak hanya berisiko menjadi diabetes, tetapi juga bisa meningkatkan risiko penyakit jantung. Untuk itu, kamu perlu lebih aware dengan gangguan kesehatan yang satu ini.

Seluk beluk prediabetes

Mengalami prediabetes berarti kadar gula di dalam tubuh lebih tinggi daripada batas normal, namun belum cukup tinggi untuk masuk ke dalam diagnosis diabetes tipe 2.

Meski belum masuk ke kategori penyakit diabetes, namun jangan pernah abaikan gangguan kesehatan ini. Seperti dilansir dari Mayo Clinic, karena bisa jadi saat berada dalam kondisi prediabetes, kamu telah mulai mengalami kerusakan pada jantung, pembuluh darah, dan ginjal.

Apa yang mengakibatkan prediabetes?

Dilansir dari Mayo Clinic, pada dasarnya kelebihan kadar gula terjadi akibat tubuh gagal memproses glukosa dengan baik. Alih-alih mengubah gula menjadi energi seperti yang seharusnya, gula malah menumpuk di dalam darah.

Meski demikian, perlu dicatat bahwa sampai saat ini para ahli sendiri belum berhasil menemukan penyebab pasti terjadinya prediabetes.

Selain riwayat kesehatan keluarga, faktor genetik, pola hidup yang kurang sehat, utamanya yang menyebabkan bertumpuknya kelebihan lemak di sekitar perut, juga dianggap berkonstribusi dalam menyebabkan prediabetes.

Gejala prediabetes

Salah satu alasan mengapa prediabetes cenderung diabaikan adalah karena kondisi ini biasanya tidak menunjukkan gejala apapun.

Meski begitu, dilansir dari Mayo Clinic kulit yang menggelap di bagian tubuh tertentu seperti leher, ketiak, siku, lutut, dan buku-buku jari, bisa menjadi tanda-tanda awal yang dapat kamu perhatikan terkait penyakit ini.

Selain itu, beberapa hal yang meningkatkan risiko diabetes juga bisa menyebabkan prediabetes. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Mengalami berat badan berlebih, karena apabila jaringan lemak semakin banyak maka sel-sel tubuh akan semakin kebal terhadap insulin.
  2. Memiliki ukuran pinggang yang besar di mana jika pria lebih dari 101,6 cm dan wanita lebih dari 88,9 cm.
  3. Pola makan yang kurang tepat, misalnya kerap mengonsumsi daging merah, daging olahan, dan minum minuman manis.
  4. Jarang melakukan kegiatan fisik seperti olahraga.
  5. Berumur di atas 45 tahun.
  6. Ada riwayat orangtua atau saudara kandung yang terkena prediabetes ataupun diabetes tipe 2.
  7. Terkena diabetes gestasional atau penyakit diabetes yang muncul ketika hamil.
  8. Menderita sindrom ovarium polikistik.
  9. Mengalami gangguan tidur.
  10. Memiliki kebiasaan merokok.

Penting untuk dicatat, jika setelah didiagnosis prediabetes kamu tidak memperbaiki gaya hidup atau melakukan penanganan secara medis, besar kemungkinan kondisi ini akan meningkat menjadi diabetes. Pada kondisi diabetes lebih lanjut, dapat terjadi komplikasi dan mungkin dapat timbul gejala-gejala berikut:

  1. Peningkatan rasa haus cukup tinggi.
  2. Frekuensi buang air kecil semakin sering.
  3. Rasa lapar yang berlebihan.
  4. Mudah lelah.
  5. Pandangan menjadi kabur.

Diagnosis prediabetes

Diagnosis prediabetes dapat dilakukan dengan tes kadar gula darah. Skrining ini sendiri direkomendasikan mulai dari usia 45 tahun.

Namun jika sebelum usia tersebut kamu telah mengalami kelebihan berat badan, atau memiliki faktor risiko terkena penyakit ini, maka segera lakukan pengecekan lebih awal. Salah satu dari beberapa jenis tes di bawah, dapat kamu pilih untuk mengonfirmasi apakah kamu telah terkena prediabetes atau tidak:

1. Tes Hemoglobin terglikasi (A1C)

Tes ini akan menunjukkan kadar rata-rata gula darah dalam rentang waktu 2 sampai 3 bulan terakhir. Untuk membaca hasil tesnya, kamu bisa merujuk pada tabel berikut:

Kadar gula darah (HbA1c)Hasil
≤ 5,7 persenNormal
5,7 persen – 6,4 persenPrediabetes
≥ 6,5 persenDiabetes

2. Tes gula darah puasa

Untuk melakukan tes ini, kamu harus berpuasa setidaknya selama delapan jam atau semalam sebelum pengambilan sampel darah. Secara umum penjelasan mengenai hasil tesnya adalah:

Kadar gula darah puasaHasil
≤ 100 miligram per desiliter (mg/dL) — 5,6 milimol per liter (mmol/L)Normal
100 hingga 125 mg/dL (5,6 hingga 7,0 mmol/L)Prediabetes atau terkadang disebut juga dengan istilah glukosa puasa terganggu
126 mg/dL (7,0 mmol/L) atau lebih tinggi dari ituDiabetes tipe 2

3. Tes toleransi glukosa oral

Tes ini biasanya digunakan untuk mendiagnosis diabetes selama masa kehamilan. Seperti halnya tes gula darah puasa, kamu juga harus berpuasa setidaknya selama delapan jam atau semalam sebelum melakukan pengambilan sampel darah.

Perbedaannya setelah itu kamu akan diminta untuk meminum larutan manis, dan kadar gula darah akan diukur lagi setelah dua jam. Cara membaca hasil tes gula darah yang satu ini adalah sebagai berikut:

Kadar gula darahHasil
≤ 140 mg/dL (7,8 mmol/L)Normal
140-199 mg/dL (7,8-11,0 mmol/L)Prediabetes atau terkadang disebut juga dengan istilah toleransi glukosa terganggu
200 mg/dL (11,1 mmol/L) atau lebih tinggiDiabetes tipe 2

4. Kriteria penegakan diagnosis diabetes Glukosa Plasma secara umum Puasa Glukosa Plasma

Menurut perkumpulan para ahli Endokrinologi di Indonesia (PERKENI), diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaaan kadar glukosa darah dan HbA1c.

Jenis pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan plasma darah vena. Berikut adalah kadar tes laboratorium darah untuk diagnosis diabetes melitus dan prediabetes menurut PERKENI, 2021:

 HbA1c (%)Glukosa darah puasa (mg/dl)Glukosa plasma 2 jam setelah TTGO (mg/dl)
Diabetes≥ 6,5≥ 126≥ 200
Pre Diabetes5,7 – 6,4100 – 125140 – 199
Normal< 5,770 – 9970 – 139

Jika kamu terindikasi memiliki prediabetes, dokter biasanya akan memeriksa kadar gula darah setidaknya setahun sekali.

Sama halnya dengan komplikasi pada diabetes, penderita prediabetes juga rentan mengalami penyakit jantung

Sebuah studi yang dipublikasikan di BMJ, menunjukkan bahwa angka prevalensi atau proporsi populasi yang mengalami prediabetes mengalami peningkatan di seluruh dunia. Diperkirakan lebih dari 470 juta orang akan mengalami prediabetes pada 2030.

Tak hanya itu, berdasarkan analisis yang mencakup 53 studi kohort prospektif dengan lebih dari 1,6 juta peserta, juga ditemukan fakta bahwa prediabetes lebih rentan menyebabkan penyakit kardiovaskular aterosklerotik dan kematian dibandingkan dengan normoglikemia (keadaan di mana glukosa darah yang berisiko rendah terhadap diabetes dan penyakit jantung).

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa meski belum mencapai diabetes, tapi prediabetes juga memiliki risiko komplikasi yang sama berbahaya bagi kesehatan jantung. Disebutkan bahwa pada populasi umum, prediabetes dikaitkan dengan peningkatan risiko semua penyebab kematian, penyakit kardio vaskular komposit, penyakit jantung koroner, dan stroke.

Atasi prediabetes sejak dini agar tidak berkembang ke arah diabetes

Prediabetes yang diabaikan besar kemungkinan akan meningkat ke kondisi diabetes. Apabila saat ini kamu telah didiagnosis prediabetes, maka segera ambil langkah perbaikan agar kondisi tersebut tidak semakin memburuk.

Pertama, kamu harus tahu bahwa mengalami prediabetes tidak serta merta membuat kamu akan mengalami diabetes di kemudian hari. Hal ini bisa dicegah jika kamu melakukan perubahan gaya hidup misalnya dengan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan rutin melakukan aktivitas fisik.

Dilansir dari Mayo Clinic, berikut adalah beberapa hal yang dapat kamu lakukan untuk mencegah prediabetes berkembang menjadi diabetes, bahkan gula darah kembali normal:

1. Menjaga asupan makanan

Konsumsi makanan rendah lemak dan kalori serta tinggi akan serat seperti buah-buahan, sayuran dan biji-bijian.

2. Lebih aktif bergerak

Lakukan aktivitas aerobik sedang setidaknya selama 150 menit atau 75 menit dalam seminggu.

3. Mengurangi berat badan berlebih

Bukan hanya akan mengurangi risiko prediabetes, berat badan ideal juga akan membantu kamu semakin jauh dari risiko diabetes.

4. Stop merokok

Merokok dapat meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2.

5. Minum obat sesuai anjuran dokter

Apabila saat ini kamu berisiko tinggi terkena diabetes, dokter mungkin meresepkan beberapa jenis obat untuk mengontrol kolesterol dan tekanan darah. Minumlah obat-obatan tersebut dengan teratur sesuai dengan anjuran dokter.

6. Terapi farmakologi

Dalam kondisi tertentu, seseorang yang sudah terdiagnosa prediabetes juga mungkin memerlukan tambahan terapi farmakologi (obat-obatan) di samping perubahan pola hidup saja.

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar info sehat lainnya? Silakan chat langsung dengan dokter kami untuk konsultasi. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Prediabetes and risk of heart failure: the link grows stronger, 2021, diterbitkan dalam biomedcentral.com, diakses pada 7 Maret 2022.
  2. Prediabetes, dipublikasikan dalam Mayo Clinic, diakses pada 7 Maret 2022
  3. Type 2 Diabetes dipublikasikan dalam Mayo Clinic, diakses pada 7 Maret 2022
  4. Association between prediabetes and risk of all cause mortality and cardiovascular disease: updated meta-analysis, 2020, diterbitkan dalam BMJ.com, diakses pada 7 Maret 2022
  5. With prediabetes, action is the best medicine, dipublikasikan dalam Diabetes.org, diakses pada 7 Maret 2022
  6. Tinjauan Pustaka Diabetes, dipublikasikan di Universitas Muhamadiyah Malang, diakses pada 26 April 2022
  7. PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia). Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2021
    register-docotr