Info Sehat

Jangan Anggap Sepele, Ini Fakta Resistensi Antimikroba yang Mengancam Jiwa

November 23, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Tak banyak yang tahu jika Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan tanggal 18–24 November sebagai Pekan Peduli Antimikroba Sedunia. Bahkan mungkin istilah tersebut masih terdengar sangat asing di telingamu.

Padahal resistensi antimikroba (AMR) sudah masuk dalam 10 besar masalah kesehatan global yang mengancam jiwa. Yuk, ketahui apa itu resistensi antimikroba lewat ulasan berikut.

Baca juga: Miliki Fungsi Berbeda, Ini 10 Golongan Antibiotik yang Perlu Kamu Tahu

Sekilas tentang resistensi antimikroba

Antimikroba, termasuk antibiotik, antivirus, antijamur, dan antiparasit adalah obat yang dipakai untuk mencegah dan mengobati infeksi baik pada manusia, hewan, maupun tumbuhan.

Adapun resistensi antimikroba adalah kondisi di mana fungsi dari obat antimikroba tersebut menjadi tidak efektif, sehingga infeksi semakin sulit untuk ditangani atau bahkan tidak mungkin diobati.

Kondisi ini sudah menjadi krisis kesehatan global sampai-sampai disebut dengan silent pandemic atau pandemi senyap. Dilansir dari Kementerian Kesehatan, angka kematian akibat AMR sampai 2014 sudah mencapai 700.000 kasus per tahun.

Seiring dengan cepatnya penyebaran dan perkembangan infeksi bakteri, angka tersebut diperkirakan akan menyaingi jumlah kematian akibat kanker, yakni mencapai 10 juta jiwa pada 2050 mendatang.

Penyebab dan dampak AMR

Dilansir dari Centers fo Disease Control and Prevention, resistensi antimikroba terjadi karena kuman seperti bakteri dan jamur mengembangkan kemampuannya untuk mengalahkan obat yang dirancang untuk membunuh mereka.

Artinya kuman tidak terbunuh dan dapat terus berkembang biak, sehingga berdampak pada penyakit menjadi sulit diobati, semakin parah, atau bahkan sampai menyebabkan kematian.

Salah satu faktor pemicu terjadinya AMR adalah penggunaan antimikroba yang tidak bijak pada manusia maupun hewan. Dalam kasus pengobatan Tubercolosis (TB) misalnya, pemakaian obat yang tidak tuntas bisa mengakibatkan bakteri kebal terhadap obat dan TB berkembang menjadi Multi-Drugs Resistance (MDR).

Indikator lain yang menunjukkan pemakaian antimikroba yang tidak bijak bisa dilihat dari masih adanya obat antibiotik yang tersisa atau disimpan di rumah. Padahal seharusnya obat tersebut sudah habis dikonsumsi sesuai resep dari dokter.

Gejala resistensi antimikroba

Pada dasarnya AMR adalah kondisi yang sulit diketahui gejalanya. Ini karena efeknya pada tubuh hanya dapat terdeteksi dari penyakit yang menjadi sulit diobati atau tetap memburuk meski sudah menggunakan obat-obatan.

Kendati demikian, dilansir dari Cedars-Sinai, dalam kasus penggunaan obat antibiotik, kondisi ini dapat menyebabkan banyak gejala.

Tapi lagi-lagi, karena infeksi dari bakteri dapat berpengaruh pada hampir setiap sistem tubuh. Maka gejala saja tidak dapat memberi tahu kamu apakah infeksi yang kamu alami berasal dari kuman yang kebal terhadap antibiotik atau bukan.

Diagnosis dan penanganan yang dapat dilakukan

Untuk mengetahui apakah kamu mengalami resistensi antimikroba, dokter dapat mengambil sampel jaringan yang terinfeksi dan mengirimkannya ke laboratorium untuk mencari tahu jenis infeksi.

Untuk kasus resistensi antibiotik, tes tertentu dapat menunjukkan antibiotik mana yang dianggap bisa membunuh kuman. Kamu mungkin mengalami infeksi yang resisten terhadap antibiotik jika kondisi tidak membaik setelah pengobatan dengan antibiotik standar.

Adapun perawatan untuk infeksi ini dapat bervariasi. Penyedia layanan kesehatan mungkin memiliki antibiotik lain yang dapat melawan infeksi. Tapi itu mungkin memiliki kelemahan tertentu.

Ini mungkin memiliki lebih banyak efek samping atau risiko mempromosikan lebih banyak resistensi. Dalam beberapa kasus, dokter mungkin tidak memiliki opsi lain sehingga akan memberikan perawatan pendukung untuk mengatasi kondisi ini.

Mencegah resistensi antimikroba

Dilansir dari Universitas Gadjah Mada, berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan agar terhindar dari kondisi ini.

1. Hanya memakai obat antimikroba apabila diresepkan dokter

Kamu tidak boleh mengonsumsi obat antibiotik, antivirus, antiparasit, maupun antijamur kecuali telah diberikan resep oleh dokter. Ini penting karena obat-obatan tersebut tidak bisa diberikan untuk setiap penyakit secara bebas.

Mengonsumsi obat antimikroba tanpa resep dokter berpeluang menyebabkan pengobatan yang tidak tepat. Misalnya saat kamu mengalami pilek akibat alergi namun malah mengonsumsi obat antivirus flu, ini bisa menyebabkan penyakit tidak tertangani dengan baik.

2. Tuntaskan pengobatan sesuai petunjuk dokter

Habiskan obat antimikroba sesuai dengan resep dokter, bahkan meski tubuhmu sudah terasa membaik. Hal ini akan mencegah bakteri mengembangkan kemampuannya untuk menjadi kebal terhadap obat dan menghindari pengobatan yang tidak optimal.

3. Konsumsi obat antimikroba berdasarkan anjuran dokter

Jangan membeli obat antimikroba yang telah habis tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter. Begitupun ketika obat masih tersedia, kamu tidak boleh menghentikan pengobatannya meski gejala sudah tidak terasa lagi.

4. Rajin mencuci tangan

Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun bisa membantu kamu terhindar dari penyebaran kuman seperti bakteri dan virus tanpa harus mengonsumsi obat-obatan.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Centers fo Disease Control and Prevention diakses pada 23 November 2021

Kementerian Kesehatan diakses pada 23 November 2021

WHO diakses pada 23 November 2021

WHO diakses pada 23 November 2021

Cedars-Sinai diakses pada 23 November 2021

Universitas Gadjah Mada diakses pada 23 November 2021

    register-docotr